26
Jan
07

Life Testimony : Tabita Wulandari

Rancangan Damai Sejahtera Tuhan Bagi Tabita
Sumber Kesaksian: Tabita Wulandari

JAWABAN.com – Tabita lahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanyalah
seorang penjahit kecil di Magelang. Untuk menopang ekonomi keluarga ibunya
juga harus membantu ayahnya dengan berjualan di warung.

Karena ditipu oleh orang. Orangtua Tabita terbelit oleh hutang yang akhirnya
membawa mereka ke jurang kemiskinan. Setiap harinya datang penagih hutang
dan mau tidak mau Tabita harus berbohong kepada mereka. Jika datang para
penagih hutang maka ibu atau ayahnya akan sembunyi di bawah kolong meja atau
sembunyi di kamar mandi, dan kejadian itu berlangsung lama. Bahkan untuk
melunasi hutang tersebut kedua orangtuanya pernah berniat menjual ginjalnya,
namun uhan tidak mengijinkannya. Ketika ada peminat, golongan darah mereka
tidak ada yang cocok.

Tabita anak ke-2 dari 5 bersaudara. Dengan keadaan demikian, untuk kehidupan
sehari-hari dan membayar biaya sekolah mereka harus menghadapi pergumulan
yang berat. Hal itu semakin dirasakan ketika ia memasuki bangku SMP. Saat
itu mereka sampai tidak bisa membayar uang sekolah. Namun Tabita tergolong
anak yang memiliki prestasi di atas rata-rata di sekolahnya, sehingga ia
mendapat beasiswa sampai lulus SMA.

Mengenal Tuhan Yesus secara pribadi
Ketika masa tenggang waktu kelulusan SMA menuju perguruan tinggi, seorang
temannya memberikan Tabita sebuah buku yang menjadi momentum awal proses
kelahiran barunya.

Buku itu menceritakan tentang kesaksian seorang anak Tuhan di Jepang yang
mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang-orang di dalam kereta api.
Buku itu begitu menyentuh hatinya. Saat itu ia menangis merasakan jamahan
Tuhan di dalam hidupnya untuk pertama kalinya.

Saat itu juga ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan apapun panggilan Tuhan di
dalam hidupnya. Doanya, “Tuhan, aku mau Engkau pakai aku jadi hambaMu.” Saat
itu ia memutuskan untuk masuk sekolah Alkitab. Namun Tuhan punya rencana
lain di dalam hidupnya. Pendaftaran di sekolah itu sudah ditutup. Tabitapun
menangis dan bertanya apa maksud Tuhan dibalik semua ini.

Kuliah karena mukjizat
Suatu hari seorang teman ayahnya dari Jogya datang ke Magelang untuk
mengunjungi keluarga mereka. Di situ mereka sharing mengenai apa yang mereka
alami hari-hari ini. Akhirnya sahabat ayahnya itu mengajak Tabita ke Jogya
untuk ikut tes UMPTN.

Puji Tuhan, Tabita diterima di FISIP UGM tahun 1994. Namun keluarganya tidak
memiliki biaya untuk melanjutkan studinya. Di situ Tabita menangis lagi di
kaki Tuhan supaya Tuhan buka jalan. Oleh kemurahan Tuhan, sahabat ayahnya
itu menolong keluarga ini untuk membayar biaya pendaftaran supaya Tabita
dapat meneruskan studinya ke perguruan tinggi.

Di kampus inilah Tabita bertemu dengan kakak rohaninya yang membimbingnya
untuk lahir baru dan kemudian ikut di dalam pemuridan di persekutuan kampus
Maranatha yang dikomandoi oleh Eriel Siregar (eks-host SOLUSI).

Tiga tahun setengah Tabita hidup dari satu mukjizat ke mukjizat lainnya. Ia
hidup dan kuliah dari ketidakmampuan orangtuanya untuk membiayainya. Satu
bulan sebelum wisuda, Tabita diterima bekerja sebagai tenaga accounting
merangkap sekretaris di sebuah diskotek di Jogya. Bidang pekerjaan yang
berbeda dengan ilmu yang dipelajarinya sewaktu kuliah. Tabita tidak pernah
memiliki tabungan. Karena hidupnya dari hari ke hari sangat bergantung
kepada pemeliharaan Tuhan.

“Hidup saya bergantung kepada Tuhan seperti bergantung pada selembar benang.
Kalau bukan pertolongan Tuhan, tidak tahu bagaimana hidup saya.” Di diskotek
itu Tabita dianggap orang aneh karena gaya hidupnya tidak seperti mereka.
Mereka bilang Tabita salah masuk kerja di sini. Meskipun kerja di tempat
yang dianggap orang negative, tapi Tabita hidup benar dan tidak mau
neko-neko karena tujuan utamanya adalah menghidupi keluarganya.

Pencobaan demi pecobaan dihadapi Tabita
Setelah tiga belas bulan bekerja di diskotek tersebut, Tabita dihadapkan
pada pergumulan yang berat. Ibunya harus masuk penjara selama 6 bulan dengan
tuduhan Kristenisasi. Sedangkan ibunya menjadi salah satu tulang punggung
keluarga berhubung ayahnya suka ditipu ketika bekerja atau mencoba membuka
usaha kecil-kecilan.

Waktu itu adik-adik dan kakak Tabita semuanya masih sekolah dan sedang
kuliah. Hanya Tabita sendiri yang sudah lulus kuliah dan sudah bekerja.
Ketika mendengar berita itu Tabita menangis karena begitu berat beban yang
harus ditanggungnya. Dialah yang harus menggantikan peran ibunya di dalam
menghidupi keluarganya. Sementara keluarganya memiliki banyak hutang yang
harus segera diselesaikan.

Tahun 1998, suatu hari Tabita melihat ada lowongan di Departemen Tenaga
Kerja. Waktu itu Depnaker membuka dua lowongan, yaitu menjadi pekerja pabrik
di Malaysia atau menjadi pembantu rumah tangga di Singapura.

Karena pertimbangan mendapatkan penghasilan yang lebih besar, Tabita memilih
menjadi pembantu rumah tangga di Singapura. Padahal waktu itu di televisi
sedang hangat pemberitaan banyak pembantu rumah tangga asal Indonesia yang
mendapat perlakuan kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Tabita sempat
mengalami ketakutan dan hanya bisa berserah kepada Tuhan. Semua itu
dilakukannya demi keluarganya.

Akhirnya Tabita berhenti kerja dan ia diberi uang pesangon. Setelah itu ia
masuk masa karantina di Cirebon untuk menunggu diberangkatkan ke Singapura.
Tuhan menunjukkan perkenanNya atas Tabita. Baru 5 hari masuk karantina
Tabita sudah memiliki majikan. Akhirnya pada hari ke-20, tepat pada tanggal
29 November 1998 Tabita berangkat ke Singapura, sementara calon TKW yang
lain harus menunggu berbulan-bulan untuk diberangkatkan.

Saat mau berangkat ke Singapura, Tabita berdoa supaya Tuhan memberikan
majikan yang baik. Doanya dijawab Tuhan karena selama bekerja 4 tahun
majikannya yang penganut Budha itu memang sangat baik dan memperlakukannya
seperti anggota keluarga sendiri.

Selama bekerja 4 tahun di Singapura, setiap bulan Tabita mengirim hampir
seluruh gajinya kepada keluarganya di Magelang. Yang ada dipikirannya
hanyalah apakah keluarganya masih bisa makan dan adik-adiknya masih bisa
sekolah? Bagi Tabita, ia merasa cukup karena setiap hari bisa menikmati
makanan yang wajar dan tempat tinggal yang layak di rumah majikannya itu.
Tapi bagaimana keluarganya di Magelang? Belum lagi keluarganya memiliki
banyak hutang yang harus diselesaikan.

Namun majikannya sangat baik hati. Mereka selalu mengetahui jika Tabita
memiliki pergumulan dan beban yang berat. Mereka menjadi sahabatnya dan
selalu menguatkan, menghibur serta memberikan kata-kata motivasi agar Tabita
kuat menjalani proses hidupnya.

Majikannya memperlakukan Tabita seperti keluarga sendiri. Di dalam keluarga
besar dan rekan-rekannya, mereka tidak menganggap Tabita seorang pembantu
rumah tangga di keluarga mereka. Bahkan mereka melewati makan malam bersama.
Di salah satu sisi Tabita menghadapi pembentukan karakter lewat anak
majikannya dan nenek tersebut, tapi di sisi lain ia merasa dihibur dengan
kebaikan hati majikannya. Mereka mau memberikan telinga mereka untuk
mendengar segala curahan hati Tabita. Selama 4 tahun bekerja di Singapura,
ternyata Tuhan mempersiapkan Tabita untuk satu masa di mana ia akan mendapat
berkat yang besar di kemudian hari. Tanpa ia sadari selama 4 tahun di
Singapura, Tabita menguasai percakapan dalam bahasa Inggris dengan baik.
Selain itu ia mendapat banyak pelajaran hidup dari majikannya.

Namun tidak semua harapannya tercapai. Adiknya yang ia support secara
finansial untuk kuliah ternyata memilih menikah ketika duduk di semester IV.
Uang yang ia kirim kepada orang tuanya setiap bulan ternyata tidak dapat
melunasi hutang-hutang keluarganya. Semua yang dilakukannya seakan-akan
sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa. Sampai Tabita sendiri tidak dapat
melihat gambaran masa depannya itu seperti apa. Akhirnya tepat pada tanggal
29 November 2002 Tabita pulang ke Indonesia.

Tabita Dipersiapkan Tuhan
Sampai di Indonesia Tabita melamar ke 5 perusahaan setelah melihat lowongan
di koran. Tabita di diterima bekerja di perusahaan direct marketing yaitu PT
Arco Prima yang berkantor di Menara Imperium Kuningan. Tabita hanya bekerja
selama 2 bulan di tempat ini karena jam kerjanya begitu padat. Ia nyaris
tidak punya waktu karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke kantor dari
tempat tinggalnya di Cijantung ke Kuningan. Begitu juga pulangnya sudah
larut malam. Waktu saat teduh dan membaca Alkitabnya ia lakukan di bis.
Kemudian ia melamar pekerjaan di tempat lain dan akhirnya diterima bekerja
di PT Andi Putra, sebuah perusahaan forwarder di daerah Pangeran Jayakarta.
Di perusahaan ini Tabita mendapat gaji lebih tinggi dari karyawan lainnya.

Kerinduan Tabita agar kehidupan keluarganya terangkat tidak pernah padam. Ia
mencoba menggugah hati ibunya agar mau pindah ke Jakarta. Karena ibunya bisa
membuka warung. Dengan berat hati karena harus meninggalkan suami dan
anak-anaknya untuk sementara waktu, akhirnya sang ibupun berangkat ke
Jakarta untuk membuka jalan bagi anggota keluarga yang lain di kemudian
hari.

Dan Tuhan buka jalan. Akhirnya ada seorang teman Tabita yang mau
mengontrakkan kiosnya di daerah Mangga Dua. Namun kendalanya dari mana uang
untuk membayar kontrakan tersebut? “Setiap kali ada masalah, pasti Tuhan
sedang mau membawa kita ke tempat yang lebih tinggi,” ungkap Tabita.
Pimpinannya bersedia membantu Tabita dengan memberikan pinjaman. Namun pada
akhirnya pimpinannya berkata bahwa Tabita tidak perlu mengembalikan pinjaman
tersebut. Akhirnya Tabita dan ibunya dapat menempati kios sekaligus tempat
untuk mereka tinggal. Ketika menempati kios yang baru itu Tabita juga mulai
mengajak kakaknya tinggal bersama mereka.

Dari PT Andi Putra, Tabita kemudian memantapkan karirnya di Monash
University. Belum lama bekerja di sini, Tabita mendapat kesempatan
mendampingi mahasiswa homestay study ke Melbourne, Australia. Sebuah
perjalanan yang belum pernah terlintas dipikirannya sebelumnya.

Di dalam hidupnya Tabita memiliki 3 impian, yaitu membangun rumah untuk
orang tuanya, membangun panti asuhan dan membangun sebuah gereja di
dekatnya. Tuhan mulai mewujudkan impiannya itu. Tuhan menaruh keyakinan di
dalam hatinya bahwa tahun 2004 Tuhan akan memberikan keluarga ini sebuah
rumah. Dan hal itu diceritakan kepada teman-temannya. Namun tidak semua
respon teman-temannya itu baik karena mereka tahu kondisi Tabita yang
sebenarnya. Tabita justru memberanikan diri untuk survey rumah di beberapa
perumahan. Tabita berdoa, “Tuhan, bagian saya kan mencari rumahnya, bagian
Tuhan menyediakan uangnya.”

Mimpi yang mulai digenapi
Suatu hari, Minggu, 29 Agustus 2004 Tabita bersaksi di sebuah gereja (GBI
PRJ Kemayoran). Kesaksian ini dia anggap sebagai hadiah ulang tahun buat
Tuhan. Di situ Tabita menyaksikan perjalanan hidupnya. Ternyata kesaksiannya
diperhatikan oleh seorang pejabat penting di President University. Orang ini
memberikan kartu namanya dan menawarkan mungkin mereka bisa bekerja sama.
Singkat cerita Tabita diterima bekerja di President University.

Rumah impian, beasiswa untuk pendidikan adik-adiknya dan pelayanan anak-anak
menuju visi memiliki panti asuhan sendiri.

Ternyata apa yang menjadi impian Tabita selama ini mulai menjadi kenyataan.
Dengan diterimanya Tabita sebagai manajer marketing di President University,
otomatis ia harus pindah ke Cikarang. Dalam waktu bersamaan Tuhan sudah
menyediakan sebuah rumah yang Dia janjikan. Tabita jatuh hati pada sebuah
rumah yang ada di samping sungai. Ia sudah membayangkan di situ ia nanti
akan mendirikan sebuah panti asuhan dan sebuah gereja kecil. Rumah itu
kebetulan hendak dipindah tangankan oleh pemiliknya dan dihargai sebesar
Rp.35 juta.

Namun dari mana dapat uang sebesar itu? Setelah melewati pergumulan Puji
Tuhan, dengan tabungan yang ada ditambah dengan berkat yang dikasih oleh
teman-temannya yang tahu Tabita membutuhkan tambahan uang untuk membeli
rumah, akhirnya mereka dapat menempati rumah itu tepat 19 Desember 2004.
Sejak saat itu orang tuanya dan saudara-saudaranya dapat berkumpul bersama
kembali di rumah impian hadiah dari Tuhan.

Kemurahan dan perkenanan Tuhan tidak hanya sampai di situ. Kedua adik Tabita
mendapatkan pendidikan yang terbaik di President University karena mereka
memiliki prestasi yang baik. Kedua adiknya mendapat beasiswa dan pelajaran
standar international di sekolah tersebut.

Impian Tabita untuk mendirikan panti asuhan telah dimulainya dengan mengajar
anak-anak kampung di dekat rumahnya itu setiap hari Minggu sore. Tabita
mengumpulkan mereka di depan halaman rumahnya. Mereka diajar membaca,
menulis, menyanyi dan hidup sehat. Bahkan anak-anak yang diasuhnya itu sudah
pernah tampil di depan Presiden SBY sewaktu berkunjung ke President
University.

Tabita Wulandari, hidupnya kini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Seorang
wanita tegar yang tidak hanya berani bermimpi. Akan tetapi berani berjuang
sampai mimpi tersebut layak untuk dihidupi.

Advertisements

2 Responses to “Life Testimony : Tabita Wulandari”


  1. 1 sanny
    April 3, 2009 at 5:38 am

    salut buat Tabitha………………… aku memang tau gmana perjuagan Tabitha sewaktu di Jogja


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 36,297 hits

RSS World News


%d bloggers like this: